Presiden Pertama Di Dunia Yang Menolak Digaji

Daftar Isi

Melihat Judulnya saja, mungkin anda pribadi terpesona dan tergebu-gebu untuk membacanya. Anda juga mungkin pribadi membandingkan kondisi politik di indonesia dengan politik di negara yang presidennya tak ingindi gaji. Sebenarnya artikel ini sudah bau. ini artikel tahun 2008. tetapi saya menerbitkannya kembali di blog saya alasannya ini berguna dan isinya berupa teladan yang mesti kita contoh.


FERNANDO LUGO MENDEZ bukan konglomerat atau politisi bergelimang uang. Mantan uskup ini hanya pekerja sosial yang kere. Tapi sungguh tak disangka, penganut sosialisme yang mendalami fatwa Pancasila ini malah menolak mendapat honor selaku Presiden Paraguay, yang diumumkannya pada malam sebelum pelantikannya, Jumat, 16 Agustus 2008.
Keputusan Lugo ini yakni keajaiban paling besar di dunia politik, sepanjang sejarah demokrasi di jagat raya ini. Sendirian dia melawan arus besar yang berlaku di semua negara, termasuk di AS, di mana jabatan presiden memberikan privilese serta potensi memperkaya diri dan kelompok. Keputusan Lugo yang mencengangkan itu disambut besar hati oleh ribuan pendukungnya. Namun, Presiden Ekuador Rafael Correa mengingatkan dengan cemas,”Begitu Lugo mulai mengganti banyak sekali hal, serangan akan dimulai.” Serangan dimaksud bakal berasal dari kalangan kapitalis, tergolong kekuatan politik yang berkiblat ke AS.
Bukanlah kebetulan bila semua pemimpin sosialis Amerika Latin hadir dalam program peresmian Fernando Lugo, yang berlangsung sederhana di ibukota Asuncion.. Mereka dipersatukan oleh semangat anti-Amerika Serikat, atau setidak-tidaknya berani melawan dan mengatakan TIDAK terhadap negara adi kuasa itu. Sebaliknya negara-negara yang dipimpin para politisi konservatif yang pro Amerika, yakni Meksiko, Kolumbia, Peru, cuma mengantardelegasi. Para presiden beraliran sosialis yang datang dalam pelantikan “presiden kaum miskin” itu antara lain Hugo Chavez dari Venezuela, Luiz Inacio Lula da Silva (Brasil), Cristina Kirchner (Argentina), Michelle Bachelet (Cili), Evo Morales (Bolivia), dan Rafael Correa (Ekuador).
Kehadiran mereka menciptakan program pelantikan tersebut menjadi semacam perayaan kebangkitan sosialisme gaya gres di bumi Amerika Latin. Fernando Lugo, 56 tahun, mengungguli pemilu presiden Paraguay pada April 2008. Sebelumnya beliau melakukan pekerjaan sebagai uskup Kristen di wilayah-wilayah miskin negara yang bertetangga dengan Brasil, Argentina, dan Bolivia itu. Dia mendapat izin cuti sementara dari Vatikan, memenangkan pemilu, dan menjadi uskup pertama di dunia yang sukses memenangkan pemilihan presiden.

Gaji presiden Paraguay lebih kecil dibanding honor anggota dewan perwakilan rakyat-RI TAHUKAH Anda berapa gaji seorang presiden di Paraguay ? Menurut kantor informasi Associated Press, honor presiden Paraguay adalah sebesar 4.000 dolar AS atau sekitar Rp.37 juta per bulan. Sangat kecil dibandingkan honor anggota dewan perwakilan rakyat-RI, yaitu sebesar Rp.49 juta per bulan(tahun 2008) . Dan kian kecil lagi dibandingkan honor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar Rp.150 juta per bulan (tahun 2008). Dengan menolak menerima gaji, pengagum pemikiran Bung Karno ini akan sungguh-sungguh menjadi relawan di tampuk kekuasaan Paraguay.

Lugo akan menjadi satu-satunya pimpinan negara di dunia yang murni volunteer alias melakukan pekerjaan tanpa menerima upah. Luar biasa! Memang, dia naik ke puncak kekuasaan di negara itu, berkat santunan kaum miskin, khususnya para petani tanpa tanah dan serikat buruh. Mungkin keputusannya itu yaitu wujud solidaritas paling faktual kepada kalangan miskin, yang meraih 35,6 persen dari total populasi. Tindakan mulia Fernando Lugo ini cocok betul dengan semboyan kampanye Sutrisno Bachir : alasannya hidup ialah perbuatan. Sekarang giliran Sutrisno dan para pemimpin Indonesia yang lain untuk menyontek langkah-langkah faktual Lugo : sebab hidup ialah perbuatan positif ! Hidup yakni melayani… Petani dan rakyat miskin lainnya!!.

PARAGUAY ialah negara paling miskin di tempat Amerika Latin. Pendapatan utama negara ini bersumber dari produk-produk pertanian, khususnya kedelai dan produk turunannya yang menyumbang lebih dari setengah hasil ekspornya, yang pada tahun 2007 tercatat 2.390 juta dolar AS. Tingkat perkembangan ekonominya bahu-membahu cukup bagus, yaitu 6,4 persen per tahun. Dengan jumlah penduduk “hanya” 6,5 juta jiwa, negara dengan luas wilayah 406.762 km persegi ini seharusnya mampu memakmurkan rakyatnya. Namun alasannya negara salah urus (SEPERTI INDONESIA!); sempat dikuasai oleh kediktatoran selama 39 tahun, korupsi dan nepotisme merajalela, dan lebih dari sepertiga orangnya adalah petani tanpa tanah; maka label negara termiskin di kawasan itu terpaksa disandangnya.

Cobaan di hari pertama berkuasa : obat dan BBM menghilang dari pasar KEMENANGAN Lugo yang mengejutkan telah menuntaskan dominasi Partai Colorado selama 61 tahun di negeri yang bagus itu. Tapi bukan mustahil, “Golkar”-nya Paraguay itu akan kembali berkuasa, bila pemerintahan koalisi yang dipimpin Lugo gagal meredam anarkisme yang timbul akibat euforia di kelompok petani miskin. Segera sesudah menentukan Lugo menang dalam pemilu, para petani tanpa tanah pribadi menyerobot tanah-tanah pertanian yang dikuasai perusahaan-perusahaan besar. Pada saat yang sama pememerintahan Lugo yang baru berusia sehari sudah pribadi digoyang oleh para kapitalis, dengan cara menguruk BBM yang menimbulkan barang vital itu menghilang dari pasar. Obat-obatan juga raib dari rak-rak apotik. Ini mampu menimbulkan krisis.

pesan moral : Semoga saja dengan membaca artikel ini mampu membangkitkan rasa nasionalisme dan solidaritas(utamanya untuk para pemegang tampuk kekuasaan)  selaku bangsa indonesia yang saat ini sedang di landa wabah Korupsi.
Bila perlu sebarkan postingan ini ke saudara kita di saentoro negeri.

ѕumbеr

Posting Komentar